Ibadah orang Buwuh vs orang Buki-buki




Ada hal-hal tertentu yang mendukung sebuah komunitas menjadi religius, internal maupun eksternal sebagaimana ada hal tertentu pula yang menjauhkan sebuah komunitas dari kereligiusan. 
Faktor penentunya menurutku sendiri lebih ke faktor internal seperti pemahaan agama, istiqamahnya serta kekompakan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di komunitas tersebut dan sebagainya. Inilah yang membentuk lingkungan eksternal, tradisi beragama, pembangunan tata ruang yang tidak jauh dari tempat ibadah dan sebagainya.

 Cuaca, air dan mesjid 

Orang yang religius tentu tidak akan tergoda oleh cuaca. Hujan, angin, badai, petir tidak akan menyurutkan langkahnya ke mesjid. Demikian juga kemarau, panas, kering tak akan berpengaruh apa pun padanyaLllTetapi itu berlaku per individu. Lain ceritanya jika kita berbicara sekelompok orang yang memiliki tingkat ketaatan beragama yang berbeda-beda.

 Buwuh, Lombok dan Buki-buki Selayar memiliki cuaca dingin yang hampir sama di kala subuh- mungkin beberapa derajat lebih dingin Buki-buki, tetapi aku jamin jamaah sholat subuh di Buwuh lebih banyak. 

Apakah karena orang buwuh lebih tahan dingin? Tentu tidak. Jawabannya karena orang buwuh memiliki tingkat ketaatan beragama yang lebih tinggi. Tetapi faktor ketaatan ini menurutku ditunjang pula oleh faktor-faktor lain seperti jarak mesjid dari tempat tinggal, ketersediaan air dan sebagainya. 

Buwuh, kampung yang sembilan puluh persen dihuni muslim (10 persen beragama hindu), adalah kumpulan perumahan penduduk yang nampaknya melingkari mesjid sebagai centre kegiataanya. Masyarakatnya komunal dengan intensitas kegotong royongan tinggi. Sementara Buki-buki adalah kampung yang agaknya telah mengental jiwa individualis-materialis. Rumah-rumahnya mendereti jalan raya yang menuju kota kabupaten tempat mengakses pasar. Tidak mengutamakan berdekatan dengan rumah tetangga, alih-alih mesjid tetapi dibangun di mana pun tanah warisan dibagikan

 Air Air, oh air

Sumber kehidupan dan sarana transportasi. Beberapa peradaban besar seperti peradaban nil, eufrat, indus dan kuning membangun komunitas di pinggir sungai demi berdekatan dengan air. 

Tapi buki-buki yang pernah menjadi bagian dari kerajaan kecil gantarang malah membangun komunitas di atas perbukitan demi menghindari bajak laut. Semakin ke puncak bukit semakin tinggi strata kebangsawanannya. Sementara juak-juak dan budak disisihkan ke lembah dan pesisir pantai untuk menangkis serangan musuh dari laut. 

 Buwuh adalah kampung berlimpah air. Orang bisa bikin sawah dan kolam ikan di mana saja. Tanahnya subur dan tidak lengket di kaki. 

Coba di buki-buki. Air berlimpah hanya di musim hujan. Itu pun berwarna coklat. Maksud dari berlimpah di sini adalah, air sumur disesaki aliran air hujan dari bukit-bukit. 

Dan para penduduk tetap harus memikul ember-jirigen dari sumur jika mau mendatangkan air ke rumah. Dalam perjalanan pulang-pergi ke sumur itu, mereka terkadang harus nyeker tak beralas kaki karena alas kaki dilengketi tanah becek bekas hujan. Air dari sumur-sumur kecil di lembah bebatuan baru agak jernih jika musim kemarau datang. Dan tentu dengan jumlah yang sedikit. Paling hanya beberapa ember dalam sehari.

 Dan hingga sekarang, buki-buki pun tetap miskin air. Orang- orang kaya mungkin sanggup membeli pompa listrik dan menarik air dari sungai. Sedang yang tidak berpunya masih saja memaggul jirigen dan menjunjung dari sumur batu di lembah. Mandi di dalam rumah hampir diharamkan bagi orang- orang sehat. Yang mandi di rumah cuma orang sakit.

 Coba bayangkan, model berislam seperti apa yang bisa diharapkan dari orang-orang malang ini. Jika malaksanakan "ibadah malam" dengan istri, harus mandi subuh-subuh ke sumur dalam dingin cuaca berangin kalau mau sholat subuh. Kalau tidak, ibadah malamnya harus ditangguhkan sampai batas waktu tak tertentu. Pilihan lain, ibadah malam jalan tapi sholat subuh ketinggalan. Maka bagi siapa yang kuat menjalankan ibadah wajib dan sunnah di buki-buki bisa dikata terbilang orang yang kuat imannya. 

Menutup tulisan ini aku katakan bahwa orang buwuh mestinya bersyukur karena alam mereka jauh lehih ramah di banding buki-buki. Jadi tingkat ketaatannya memang sudah semestinya lebih tinggi. 

Buwuh, 5 Agustus 17 


Comments

Popular posts from this blog

Bongkar-pasang main wheel

Inspeksi Harian Pesawat Terbang 2 -Moncong Dan Sekitarnya

Inspeksi harian pesawat terbang 15 - cek peralatan keselamatan di cabin